Sleman (MTsN 8 Sleman) โ MTsN 8 Sleman mengikuti Survei Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) pada Selasa (20/10/2026). Kegiatan yang berlangsung di laboratorium komputer MTsN 8 Sleman ini diikuti oleh dua guru dan 29 murid. Dua guru yang menjadi responden dalam survei tersebut adalah Eti Maryati, S.Pd.I. dan Evi Septyandari, S.Pd.
Pelaksanaan survei ini merupakan tindak lanjut dari program pengelolaan SAHABAT KBC (Kurikulum Berbasis Cinta) bagi satuan pendidikan madrasah. Seluruh madrasah di Kabupaten Sleman diminta segera melakukan aktivasi dan pengelolaan data SAHABAT KBC sebagai bagian dari upaya mendukung implementasi Kurikulum Berbasis Cinta di lingkungan madrasah.
Dalam pelaksanaannya, terdapat perbedaan jumlah pertanyaan yang harus dijawab oleh guru dan murid. Sebanyak 29 murid mengerjakan 35 pertanyaan survei, sedangkan dua guru mengisi 60 pertanyaan. Seluruh responden mengikuti survei melalui perangkat komputer di laboratorium dengan harapan dapat memberikan gambaran mengenai penerapan Kurikulum Berbasis Cinta di lingkungan madrasah.
Evi Septyandari, S.Pd., salah satu guru yang mengikuti survei, menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi kesempatan untuk memberikan gambaran mengenai pelaksanaan pembelajaran dan penerapan nilai-nilai cinta di madrasah. Menurutnya, Kurikulum Berbasis Cinta penting untuk terus dikembangkan agar proses pendidikan tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga memperhatikan pembentukan karakter, kepedulian, dan hubungan positif antara guru dengan murid.

โMelalui survei ini, kami berharap implementasi Kurikulum Berbasis Cinta dapat semakin dipahami dan diterapkan dalam kegiatan pembelajaran sehari-hari. Nilai-nilai cinta perlu hadir dalam interaksi di madrasah sehingga murid merasa dihargai, nyaman belajar, dan tumbuh menjadi pribadi yang berakhlak baik,โ ungkap Evi.
Sementara itu, Wakil Kepala Madrasah Bidang Kurikulum MTsN 8 Sleman, Muhammad Arwani Munib, S.Th.I., menyampaikan bahwa keikutsertaan guru dan murid dalam survei ini merupakan bentuk dukungan madrasah terhadap pengembangan Kurikulum Berbasis Cinta. Partisipasi tersebut diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai implementasi KBC sekaligus menjadi bahan evaluasi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran yang lebih humanis dan berorientasi pada pembentukan karakter murid.
Ia menegaskan bahwa Kurikulum Berbasis Cinta sejalan dengan peran madrasah dalam membentuk generasi yang tidak hanya unggul dalam pengetahuan, tetapi juga memiliki akhlak mulia, sikap toleran, kepedulian sosial, dan rasa hormat terhadap sesama. Oleh karena itu, nilai-nilai cinta perlu diwujudkan melalui keteladanan guru, budaya madrasah yang positif, serta proses pembelajaran yang menghargai potensi setiap murid. (adp)
Tinggalkan Komentar