Sleman (MTsN 8 Sleman) – Stan Batik Ciprat MTsN 8 Sleman menjadi salah satu pusat perhatian dalam Konferensi Pendidikan Indonesia (KPI) Kabupaten Sleman yang berlangsung pada Rabu (1/7/2026) hingga Kamis (2/7/2026). Momen istimewa terjadi ketika Bupati Sleman, H. Harda Kiswaya, S.E., M.Si., berkunjung ke stan Kapanewon Prambanan dan ikut mencoba membatik bersama para guru MTsN 8 Sleman.
Dalam pameran inovasi pendidikan yang diikuti oleh perwakilan dari 17 kapanewon se-Kabupaten Sleman tersebut, MTsN 8 Sleman dipercaya mewakili Kapanewon Prambanan dengan menampilkan program unggulan Batik Ciprat Madyadesta. Selain memamerkan berbagai karya batik hasil kreativitas peserta didik, madrasah juga membuka workshop membatik yang dapat diikuti langsung oleh para pengunjung.
Kedatangan Bupati Sleman bersama jajaran Pemerintah Kabupaten Sleman disambut hangat oleh para peserta pameran. Didampingi Panewu Prambanan, Hj. Purwati, S.H., M.M., Bupati Harda Kiswaya tampak mengamati berbagai hasil karya batik ciprat yang dipamerkan sebelum akhirnya mencoba sendiri proses pembuatan batik.
Dengan penuh antusias, Bupati mengikuti arahan yang diberikan oleh guru batik MTsN 8 Sleman, Rochmad Rapih Raharjo, S.Pd., dan Anita Dwi Astuti, S.Pd. Mulai dari teknik mencipratkan warna hingga proses pembentukan motif, seluruh tahapan dicoba secara langsung. Suasana stan pun semakin meriah ketika para pengunjung menyaksikan orang nomor satu di Kabupaten Sleman tersebut ikut berkreasi di atas kain putih.
Panewu Prambanan, Hj. Purwati, S.H., M.M., juga turut mencoba pengalaman membatik. Keduanya terlihat menikmati setiap proses yang diperagakan oleh tim Batik Ciprat MTsN 8 Sleman sekaligus memberikan apresiasi terhadap inovasi pembelajaran berbasis budaya yang dikembangkan madrasah.
Kepala MTsN 8 Sleman, Agus Sholeh, S.Ag., menyampaikan rasa syukur atas kunjungan Bupati Sleman ke stan Batik Ciprat Madyadesta. Menurutnya, kunjungan tersebut menjadi motivasi besar bagi madrasah untuk terus mengembangkan inovasi yang mengangkat potensi peserta didik sekaligus melestarikan budaya bangsa. “Kami merasa bangga karena Bapak Bupati berkenan mengunjungi stan MTsN 8 Sleman bahkan mencoba membatik secara langsung. Perhatian ini menjadi penyemangat bagi kami untuk terus mengembangkan Batik Ciprat Madyadesta sebagai media pembelajaran yang mengintegrasikan kreativitas, karakter, dan kecintaan terhadap budaya Indonesia,” ungkap Agus.
Guru Batik MTsN 8 Sleman, Rochmad Rapih Raharjo, menjelaskan bahwa workshop sengaja dirancang agar setiap pengunjung dapat merasakan pengalaman membatik secara langsung, bukan sekadar melihat hasil karya. “Kami ingin siapa pun yang datang dapat merasakan bahwa membatik itu menyenangkan dan dapat dilakukan oleh semua kalangan. Kehadiran Bapak Bupati dan Ibu Panewu yang ikut membatik menjadi kebanggaan tersendiri sekaligus bentuk apresiasi terhadap karya-karya siswa kami,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Anita Dwi Astuti. Ia menilai antusiasme Bupati dan para pengunjung menunjukkan bahwa batik ciprat memiliki daya tarik sebagai media edukasi sekaligus pelestarian budaya. “Melalui workshop ini kami ingin mengenalkan proses kreatif di balik setiap karya batik. Semoga semakin banyak masyarakat yang mencintai batik dan melihat bahwa madrasah juga mampu menghadirkan inovasi pembelajaran yang kreatif dan membanggakan,” tuturnya.
Kunjungan Bupati Sleman ke stan MTsN 8 Sleman menjadi salah satu momen berkesan dalam Konferensi Pendidikan Indonesia Kabupaten Sleman. Melalui Batik Ciprat Madyadesta, MTsN 8 Sleman tidak hanya mempromosikan hasil karya peserta didik, tetapi juga menunjukkan bahwa pelestarian budaya dapat dikemas menjadi inovasi pendidikan yang menarik, interaktif, dan menginspirasi masyarakat. (idw)
Tinggalkan Komentar