Sleman (MTsN 8 Sleman) – Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian. Pesan mendalam tersebut menjadi inti tausiah yang disampaikan oleh Ustaz H. Muhammad Yusuf Wibisono dalam pengajian rutin triwulan keluarga besar MTsN 8 Sleman yang berlangsung pada Ahad (25/10/2026) di Rumah Makan Sop Haji Andi, Klaten. Pengajian yang dihadiri oleh Pengawas Pembina MTsN 8 Sleman, pengurus komite, kepala madrasah, guru, pegawai, serta keluarga masing-masing tersebut berlangsung khidmat dan penuh makna.
Dalam tausiahnya, Ustaz Muhammad Yusuf Wibisono mengawali dengan mengingatkan firman Allah Swt. dalam Al-Qur’an, Surah Ali Imran ayat 185, “Kullu nafsin dzā’iqatul maut,” yang berarti setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian. Menurutnya, kematian merupakan ketetapan Allah Swt. yang tidak dapat dihindari oleh siapa pun, tanpa memandang usia, jabatan, kekayaan, maupun kedudukan. Oleh karena itu, setiap manusia hendaknya senantiasa mempersiapkan diri dengan memperbanyak amal saleh dan meningkatkan ketakwaan selama masih diberikan kesempatan hidup.
“Kullu nafsin dzā’iqatul maut, setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian. Tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan ajalnya akan tiba. Karena itu, selama Allah masih memberikan umur dan kesehatan, manfaatkanlah kesempatan tersebut untuk beribadah, berbuat baik, dan menyiapkan bekal terbaik untuk kehidupan akhirat,” pesan Ustaz Yusuf.

Lebih lanjut, Ustaz Yusuf menjelaskan bahwa dalam uraian tausiahnya terdapat tiga hal yang dinantikan oleh orang yang telah meninggal dunia. Pertama, datangnya hari kiamat sebagai awal kehidupan akhirat yang kekal. Kedua, kiriman doa dari keluarga, anak, maupun kerabat yang masih hidup. Ketiga, sebagaimana disampaikan dalam penjelasan keagamaan yang dibawakannya, adanya kabar atau laporan yang disampaikan malaikat mengenai keadaan keluarga yang masih hidup di dunia.
Ia memberikan penekanan khusus pada pentingnya doa dari keluarga yang masih hidup bagi mereka yang telah meninggal dunia. Menurutnya, doa merupakan salah satu bentuk kasih sayang yang tetap dapat diberikan meskipun seseorang telah berpisah dengan orang-orang tercinta karena kematian. Oleh sebab itu, ia mengajak seluruh jamaah untuk tidak melupakan orang tua, keluarga, guru, maupun kerabat yang telah lebih dahulu menghadap Allah Swt.
“Jangan sampai kesibukan dunia membuat kita lupa mendoakan orang-orang yang telah mendahului kita. Ketika seseorang telah meninggal dunia, ia tidak lagi memiliki kesempatan untuk menambah amal sebagaimana ketika masih hidup. Maka, sebagai anak, keluarga, dan kerabat yang masih diberikan umur, hendaknya kita senantiasa mengirimkan doa dan memohonkan ampunan kepada Allah untuk mereka,” tuturnya.
Berkaitan dengan hal ketiga, Ustaz Yusuf mengajak jamaah untuk merenungkan pentingnya menjaga perilaku dan memperbanyak kebaikan selama menjalani kehidupan. Ia mengingatkan bahwa hubungan kekeluargaan tidak semestinya terputus begitu saja ketika salah satu anggota keluarga meninggal dunia. Kasih sayang dapat terus diwujudkan melalui doa, menjaga nama baik keluarga, melanjutkan kebaikan yang telah diajarkan, serta menjalani kehidupan sesuai tuntunan agama.
Melalui tausiah tersebut, Ustaz Yusuf juga mengingatkan bahwa kehidupan dunia hanyalah sementara, sedangkan kehidupan akhirat merupakan tujuan yang harus dipersiapkan dengan sungguh-sungguh. Jabatan, harta, dan berbagai kesibukan duniawi tidak akan dibawa ketika seseorang meninggal dunia. Oleh karena itu, ia mengajak jamaah untuk menyeimbangkan tanggung jawab dunia dengan kewajiban beribadah, menjaga hubungan baik dengan sesama, serta memperbanyak amal yang bermanfaat.
Pengajian rutin triwulan ini menjadi momentum refleksi spiritual bagi keluarga besar MTsN 8 Sleman untuk senantiasa mengingat kematian dan memperbaiki kualitas kehidupan. Pesan yang disampaikan Ustaz H. Muhammad Yusuf Wibisono diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran untuk lebih menghargai waktu, mempererat hubungan kekeluargaan, serta tidak melupakan doa bagi mereka yang telah meninggal dunia. Dengan demikian, kegiatan pengajian tidak hanya menjadi sarana mempererat silaturahmi, tetapi juga memperkuat keimanan dan ketakwaan seluruh warga madrasah. (adp)
Tinggalkan Komentar