Sleman (MTsN 8 Sleman) – Peringatan Hari Batik Nasional di MTsN 8 Sleman berlangsung meriah dan penuh kreativitas. Mengusung tema “JIROLUPAT: Nyawiji Roso Lurik Ciprat”, kegiatan yang digelar Kamis (1/10/2026) tersebut menampilkan beragam karya dan kreativitas warga madrasah, mulai dari batik karya guru dan pegawai hingga hasil kegiatan kokurikuler murid.
Rangkaian kegiatan diawali dengan penampilan peragaan busana batik karya guru dan pegawai MTsN 8 Sleman. Para guru dan pegawai tampil percaya diri di atas catwalk mengenakan batik hasil karya sendiri dengan motif lurik ciprat. Suasana semakin meriah dengan sorak sorai dan tepuk tangan para murid yang menyaksikan penampilan guru dan pegawai mereka. Jika biasanya murid yang menjadi model dalam peragaan busana batik, tahun ini guru dan pegawai justru mengambil peran sebagai model.
Selain peragaan busana, berbagai karya kokurikuler murid juga turut dipamerkan. Murid kelas IX menampilkan kain batik Lurik Ciprat hasil karya mereka, kelas VIII menyuguhkan tari kreasi Madyadesta, sedangkan kelas VII memamerkan journey board hasil reportase dengan tema “Aku dan Masa Depanku”. Berbagai karya tersebut menjadi bukti kreativitas murid dalam mengembangkan potensi melalui kegiatan kokurikuler.
Kepala MTsN 8 Sleman, Agus Sholeh, S.Ag., dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada seluruh warga madrasah yang telah berpartisipasi dalam menyukseskan peringatan Hari Batik Nasional. Menurutnya, batik tidak hanya menjadi pakaian, tetapi juga warisan budaya yang perlu dijaga dan dikembangkan melalui kreativitas generasi muda. “Melalui kegiatan ini, kami ingin menanamkan rasa bangga terhadap batik sekaligus memberikan ruang kepada guru, pegawai, dan murid untuk menunjukkan karya dan kreativitasnya,” tuturnya.
Kegiatan tersebut juga mendapat apresiasi dari Basori Alwi, S.Ag., M.A., perwakilan Kanwil Kemenag DIY. Ia menyampaikan rasa bangga melihat berbagai karya yang dihasilkan warga MTsN 8 Sleman. Menurutnya, kreativitas yang ditampilkan menunjukkan bahwa madrasah mampu mengembangkan pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada akademik, tetapi juga keterampilan, budaya, dan karakter.
Basori berpesan kepada para murid agar terus melestarikan budaya bangsa, salah satunya dengan memiliki kebanggaan terhadap produk batik Indonesia. “Banggalah dengan budaya bangsa kita, salah satunya dengan bangga memakai dan melestarikan batik,” pesannya. Ia juga mengingatkan murid agar tidak meninggalkan salat, menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup, menghormati orang tua, serta belajar dengan disiplin.
Peringatan Hari Batik Nasional juga semakin semarak dengan keterlibatan tamu undangan dalam memberikan apresiasi terhadap karya murid. Para tamu diberikan kesempatan untuk memberikan penilaian dengan menempelkan stiker berbentuk tanda bintang pada karya yang mereka apresiasi. Penilaian tersebut menjadi bentuk penghargaan langsung terhadap kreativitas dan kerja keras murid. (adp)
Tinggalkan Komentar