Sleman (MTsN 8 Sleman) โ Dua guru Bimbingan dan Konseling (BK) MTs Negeri 8 Sleman, Sutraniatun, S.Pd. dan Fitra Permata Sari, S. Psi., mengikuti kegiatan Pelatihan Nasional Moda Hybrid Pengembangan Kurikulum Berbasis Cinta dan Pendidikan Inklusi untuk Mendukung Kesejahteraan Siswa yang diselenggarakan oleh Musyawarah Guru Bimbingan dan Konseling (MGBK) MTs Nasional bekerja sama dengan MGBK MTs Provinsi Jawa Tengah di UIN Raden Mas Said Surakarta, pada Kamis (30/10/2025).
Kegiatan ini merupakan bagian dari tindak lanjut penyusunan rencana strategis (Renstra) kerja MGBK MTs Nasional tahun 2024โ2028. Pelatihan diikuti oleh tenaga pendidik dari berbagai jenjang madrasah (MI, MTs, dan MA) se-Indonesia, baik secara luring maupun daring.
Pelatihan nasional ini menghadirkan sejumlah narasumber ternama, di antaranya: Dr. Fesal Musaad, M.Pd. (Direktur GTK Madrasah Kemenag RI) selaku keynote speaker, Dr. H. Syaiful Mujab, MA (Kepala Kanwil Kemenag Provinsi Jawa Tengah), Tim UIN Raden Mas Said Surakarta dengan materi Pengembangan dan Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta serta Membumikan Pendidikan Inklusi, Dr. Eko Prasetyo, M.Pd. dan Fatatik Maulidiyah, S.Ag., M.Pd. (Penerbit Media Guru Indonesia), Dr. Ranu Sriwidodo, S.T., S.E., M.Mm. (Enterpreneur Coach Ciputra).
Dalam sambutannya, Ketua MGBK MTs Nasional, Dwi Atmaja, S.Pd., M.Psi., menegaskan pentingnya menghapus stigma negatif terhadap guru BK.
โStigma bahwa guru BK adalah โpolisi sekolahโ harus dihapuskan. Ke depan, guru BK harus benar-benar menjalankan tugasnya sebagai pemberi layanan bimbingan dan konseling. Semoga pandangan bahwa guru BK hanya menangani murid yang nakal bisa hilang sepenuhnya,โ ujarnya.
Sementara itu, Kepala Kanwil Kemenag Provinsi Jawa Tengah, Dr. H. Syaiful Mujab, MA., menekankan pentingnya penerapan kurikulum berbasis cinta di Madrasah.
โSeharusnya tidak ada lagi tindak kekerasan di sekolah oleh guru, baik dalam bentuk fisik maupun verbal. Mari bersama-sama menjalankan kurikulum berbasis cinta kepada anak-anak,โ pesannya.
Kegiatan pelatihan berlangsung dalam suasana inspiratif dan penuh antusiasme. Fitra, menyampaikan kesannya,
โKami mendapat pengetahuan tentang teknik konseling baru, yaitu hypnoruqyah therapy dan lebih memahami konsep inklusi di satuan pendidikan,โ ungkapnya dengan semangat.
Selain sesi luring pada tanggal 30 Oktober, kegiatan juga dilanjutkan dengan sesi daring pada 31 Oktober hingga 2 November 2025, berisi tindak lanjut dan pendalaman materi melalui grup peserta. Melalui kegiatan ini, guru BK diharapkan mampu mengimplementasikan nilai-nilai cinta, empati, dan inklusivitas dalam layanan konseling, sehingga madrasah menjadi lingkungan belajar yang lebih ramah dan menumbuhkan kesejahteraan siswa secara menyeluruh. (nss)
Tinggalkan Komentar