Sleman (MTsN 8 Sleman) — Tausiyah yang disampaikan oleh Ustadz Dwi Sedyo Suryo Atmojo dalam acara syawalan dan halal bihalal keluarga besar MTsN 8 Sleman pada Minggu (29/3/2026) di Warung Kayu Manis, Bogem, Kalasan, Sleman berlangsung khidmat dan penuh makna. Para peserta tampak menyimak dengan antusias setiap pesan yang disampaikan. Materi tausiyah yang disampaikan dinilai sangat relevan dan menyentuh kehidupan sehari-hari.
Dalam tausiahnya, Ustadz Dwi Sedyo Suryo Atmojo menjelaskan makna bulan Syawal dari sisi bahasa dan maknanya dalam kehidupan umat Islam. Ia menyampaikan bahwa kata “Syawal” berasal dari akar kata syala yang berarti meningkat, mengangkat, atau menjadi tinggi. Secara etimologis, Syawal mengandung makna peningkatan dan pengangkatan, baik secara fisik maupun spiritual setelah menjalani ibadah di bulan Ramadan.
Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa para ulama bahasa memberikan pesan tersirat dalam penamaan bulan Syawal. Setelah sebulan penuh berpuasa, umat Islam diharapkan mengalami peningkatan kualitas iman dan amal saleh. “Syawal bermakna bulan peningkatan, maka kita harus meningkatkan ibadah kita. Jangan sampai setelah Ramadan justru terjadi penurunan semangat beribadah,” tegasnya.
Selain itu, Ustadz Dwi juga menguraikan tentang makna takwa dalam kehidupan seorang muslim. Ia menyebutkan bahwa takwa adalah sikap takut kepada Allah SWT, berhati-hati dalam menjalani kehidupan, serta memastikan setiap amalan sesuai dengan wahyu. Orang yang bertakwa juga digambarkan sebagai pribadi yang selalu ridha dengan rezeki yang diperoleh, meskipun sedikit, serta senantiasa mempersiapkan diri menghadapi kematian.
Beliau juga mengingatkan pentingnya keikhlasan dalam beribadah. “Jangan melaksanakan sesuatu jika tidak sesuai dengan wahyu, dan lakukan segala amalan dengan ikhlas, murni hanya mengharapkan ridha Allah SWT,” pesannya. Keikhlasan menjadi kunci utama diterimanya setiap amal yang dilakukan oleh manusia.
Dalam penjelasannya, Ustadz Dwi membagi amalan menjadi tiga bagian utama, yaitu amalan hati, amalan lisan, dan amalan anggota badan. Amalan hati meliputi kemampuan menjaga perasaan agar tidak berlebihan dalam mencintai maupun membenci. Amalan lisan mencakup menjaga ucapan, bahkan beliau menekankan bahwa lebih baik diam daripada berkata yang tidak benar, serta menghindari sifat mudah marah.
Sementara itu, amalan anggota badan diwujudkan melalui perbuatan nyata yang sesuai dengan ajaran Islam. Ketiga jenis amalan tersebut harus berjalan seimbang agar membentuk pribadi muslim yang sempurna. Dengan memahami dan mengamalkan ketiganya, diharapkan setiap individu mampu meningkatkan kualitas diri menjadi pribadi yang bertakwa.
Tausiyah ini menjadi penutup rangkaian kegiatan syawalan dan halal bihalal keluarga besar MTsN 8 Sleman. Pesan-pesan yang disampaikan diharapkan mampu menjadi bekal bagi seluruh peserta untuk terus meningkatkan iman, amal, dan ketakwaan dalam kehidupan sehari-hari. Suasana penuh kekhidmatan dan refleksi diri terasa hingga akhir acara. (adp)
Tinggalkan Komentar