Sleman( MTs N8 Sleman) — Sebuah pemandangan yang tak biasa hadir di halaman utama MTs Negeri 8 Sleman pada Rabu, 11 Juni 2025. Dalam momen pelepasan siswa kelas IX, sebuah gapura dua muka berdiri megah sebagai pintu masuk utama acara. Lebih dari sekadar struktur penyambut, gapura ini menjelma menjadi simbol perpisahan dan harapan — kokoh, artistik, dan sarat makna.
Gapura tersebut dibangun oleh tim dekorasi madrasah yang terdiri dari guru dan pegawai, sebagai bagian dari konsep acara bertema “DINADIMU – Di Sini Terukir Nama dan Mimpimu.” Tema ini tak hanya ditempel secara harfiah di bagian atas gapura, namun juga terpatri dalam setiap detail desain dan filosofi pembuatannya.
Struktur gapura menggunakan konstruksi kerangka dari bambu yang dirangkai saling mengait membentuk struktur yang kokoh namun tetap ringan. Uniknya, dimensi utama dari gapura dibentuk dari limbah kardus, yang diolah menjadi permukaan dinding dan ornamen visual. Kardus-kardus tersebut disusun berlapis, memberikan kesan volume dan kedalaman, seolah mengajak siapa pun yang melewatinya untuk menapaki perjalanan dari masa lalu menuju masa depan.
Salah satu anggota tim dekorasi, Suryanto, mengungkapkan bahwa pembuatan gapura memakan waktu dan ketelatenan tersendiri, karena harus menjaga keseimbangan struktur sekaligus memastikan tampilannya estetis. “Kami memanfaatkan bahan-bahan sederhana tapi dengan perhitungan yang matang. Bambu dan kardus itu mudah ditemukan, tapi jika digabungkan dengan teknik yang tepat, bisa menjadi karya yang kuat sekaligus indah,” ujarnya.
Tak hanya dari segi bentuk, gapura juga menarik perhatian karena finishing-nya yang dilukis dengan motif batuan. Teknik pewarnaan ini memberikan kesan alami dan elegan, menciptakan perpaduan antara kekuatan dan keindahan. Warna-warna netral seperti abu-abu batu, coklat tanah, dan aksen putih digunakan untuk menghadirkan nuansa alam yang tenang namun penuh makna.
Koordinator tim dekorasi, Rochmad Rapih Raharjo, S.Pd, yang juga merupakan guru batik di madrasah, menekankan bahwa desain gapura ini bukan sekadar hiasan, melainkan bentuk ekspresi seni dan edukasi. “Kami ingin anak-anak merasakan bahwa proses perpisahan ini punya gerbang simbolik. Gapura ini adalah titik mereka berpindah dari satu fase kehidupan ke fase berikutnya. Itulah mengapa desainnya kami buat dua muka—sebagai metafora dari masa lalu yang ditinggalkan dan masa depan yang akan ditempuh,” jelasnya.
Lebih lanjut, Rochmad menambahkan bahwa keterlibatan guru dan pegawai dalam membangun dekorasi ini menunjukkan semangat kolektif di madrasah. “Ini bukan hanya soal dekorasi. Ini soal kebersamaan, kepedulian, dan memberi contoh kepada siswa bahwa sesuatu yang besar bisa dikerjakan bersama, bahkan dari bahan sederhana,” tambahnya.
Gapura DINADIMU tidak hanya menjadi latar foto para siswa bersama orang tua dan guru, tapi juga menjadi penanda emosional dalam acara tersebut. Setiap siswa yang melangkah melewati gapura seolah memasuki babak baru dalam hidupnya, dengan nama dan mimpi yang telah ditorehkan selama tiga tahun belajar di MTsN 8 Sleman.
Acara pelepasan siswa berlangsung meriah, namun juga penuh haru. Didukung oleh penampilan seni, prosesi pengalungan samir, serta sambutan dari kepala madrasah dan komite, acara ini menjadi penutup yang manis untuk angkatan yang telah melalui masa belajar di tengah berbagai tantangan.
Dengan gapura ramah lingkungan dan penuh nilai artistik ini, MTsN 8 Sleman kembali membuktikan komitmennya terhadap pendidikan karakter, kepedulian lingkungan, dan pengembangan kreativitas. Tak hanya mendidik, tetapi juga menginspirasi.(r3)
Tinggalkan Komentar