Sleman( MTs N 8 Sleman)โ Momen pelepasan siswa kelas IX MTs Negeri 8 Sleman yang digelar pada Rabu, 11 Juni 2025 tak hanya penuh haru dan semarak, tetapi juga menampilkan kekuatan identitas dan kreativitas madrasah. Salah satu sorotan menarik dalam acara tersebut adalah penampilan para walikelas IX yang tampil istimewa dalam balutan busana batik ciprat, produk unggulan khas MTsN 8 Sleman.
Tidak seperti biasanya, para wali kelas tampil seragam namun tetap memancarkan keunikan masing-masing. Ibu wali mengenakan atasan kebaya hitam dengan bawahan batik ciprat, sedangkan bapak wali tampil rapi dengan jas bermotif batik ciprat, menjadikan kesan acara semakin anggun dan bernilai budaya tinggi. Yang membuatnya lebih istimewa, seluruh busana batik ciprat tersebut merupakan hasil karya buatan sendiri โ ciptaan tangan-tangan kreatif warga MTsN 8 Sleman dalam program kontemproduk madrasah.
Batik ciprat merupakan produk khas sekaligus unggulan MTsN 8 Sleman yang telah menjadi ciri khas madrasah dalam beberapa tahun terakhir. Tidak seperti batik tulis konvensional, batik ciprat diproses secara ekspresif dan spontan, menggunakan teknik cipratan warna yang menghasilkan motif tak beraturan namun memiliki nilai seni yang tinggi. Teknik ini memungkinkan setiap kain memiliki karakter unik, meskipun menggunakan warna dan pola dasar yang sama.
Salah satu wali kelas IX, Andriyani Dwi Puspita Hadi, S.Pd, menyampaikan bahwa pemilihan busana batik ciprat sebagai seragam wali di momen penting ini bukan tanpa alasan. โKami ingin menampilkan identitas madrasah yang sesungguhnya, dan batik ciprat ini adalah simbol kreativitas, kerja sama, dan kearifan lokal yang selama ini kami bangun bersama di MTsN 8 Sleman,โ ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa mengenakan batik buatan sendiri dalam acara formal seperti pelepasan siswa memberikan kebanggaan tersendiri, baik bagi guru maupun siswa. โAnak-anak melihat bahwa kita tidak hanya mengajarkan teori, tapi benar-benar menjalankan nilai-nilai yang kita tanamkan di madrasah, salah satunya adalah berkarya dari apa yang kita punya,โ lanjutnya.
Sementara itu, Rochmad Rapih Raharjo, S.Pd, selaku guru batik sekaligus koordinator tim dekorasi, menjelaskan lebih lanjut filosofi di balik keseragaman batik ciprat yang digunakan. โBatik ciprat itu tidak ada dua yang benar-benar sama. Tapi karena dibuat dengan satu ramuan warna dan semangat yang sama, hasil akhirnya tetap terlihat senada. Ini seperti kita di madrasah: tiap orang punya gaya dan peran masing-masing, tapi tetap satu tujuan,โ terangnya.
Warna-warna yang digunakan dalam batik ciprat kali ini cenderung kalem, megah, dan bersahaja ย perpaduan nuansa biru keunguan, biru kehitaman, dan perpaduan warna primer yang menenangkan namun elegan. Kesan yang muncul sangat cocok dengan suasana acara perpisahan: penuh makna, reflektif, dan penuh harapan.
Penampilan ย wali kelas dalam balutan batik ciprat ini mendapat banyak pujian dari siswa, orang tua, bahkan tamu undangan. Tidak hanya memperlihatkan keserasian dan kekompakan wali kelas, tetapi juga menjadi bukti nyata bahwa MTsN 8 Sleman terus mendorong pengembangan produk lokal, keterampilan tangan, dan pembelajaran berbasis karya nyata di tengah tantangan pendidikan masa kini.
Dengan langkah ini, MTsN 8 Sleman tidak hanya memberikan pelepasan siswa yang berkesan, tetapi juga menunjukkan bahwa madrasah mampu tampil mandiri, inovatif, dan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai budaya Indonesia.(r3)
Tinggalkan Komentar